www.sentralternak.com, Ada anekdot yang berkembang, mengapa usaha penggemukan sapi di Indonesia hasilnya kurang sesuai harapan dan tidak seperti industri penggemukan sapi di negara-negara penghasil daging seperti Australia atau lainnya? Salah satu jawaban singkat yang beredar pula adalah karena pakan sapi bersaing dengan makanan manusia. Bagaimana tidak, kita ambil contoh tempe menjos (tempe bongkrek, menjes, atau apalah nama lainnya) yang dulunya hanya dipakai sebagai bahan pakan sapi sekarang malah menjadi salah satu makanan pelengkap gorengan yang banyak dijual dipinggir jalan. Kreasi masakan dari tempe menjos pun sangat bervariasi mulai dari yang hanya sekedar di beri tepung saja sampai yang berkuah santan. Mengapa memilih menjos? Alasan klasik adalah karena harga tempe menjos sangat murah dan kalau diolah dan dijual keuntungannya berlipat-lipat.
Awal penemuan tempe menjos sebagai bahan makanan yang bisa dikonsumsi oleh manusia tidak diketahui dengan pasti, akan tetapi sekarang kita bisa menyaksikan sendiri tempe menjos adalah salah satu pelengkap jajanan gorengan yang banyak dijual. Taktik yang digunakan oleh penjual gorengan bisa diacungi jempol alias jitu yaitu dengan menggoreng tempe menjos duluan sebelum menggoreng yang lainnya seperti pisang goreng, weci, tempe goreng, tahu isi, jemblem, tape goreng, sukun goreng, lento, telo goreng, singkong goreng, dan yang lainnya. Mengapa? Karena kalau digoreng lebih awal maka kemungkinan laku juga lebih tinggi dan keuntungan yang diperoleh juga lebih banyak. Dengan modal Rp 2.000 (untuk membeli menjos dan membuat adonan) penjual sudah bisa membuat 10-12 potong menjos dengan harga per potong Rp 500,-. Kami yakin anda bisa menghitung sendiri keuntungan yang bisa diperoleh si penjual.