16th Dec, 2008

Flying System

www.sentralternak.com, Sebuah judul yang mungkin masih asing di telinga kita akan tetapi tanpa disadari banyak orang yang telah masuk di dalam system tersebut. Artikel ini merupakan artikel lanjutan dari artikel kami sebelumnya yang berjudul selamatkan ternak asli Indonesia. Muncul ide penulisan artikel ini karena terilhami oleh sebuah perkataan salah seorang juru bicara kepresidenan Bapak SBY ketika terjadi ramai-ramainya kasus BLT dan demonstrasi menentang kenaikan harga BBM. Bunyi perkataan tersebut adalah : “Sudah saatnya kita rubah paradigma, dari subsidi orang kepada subsidi barang”. Kami yakin anda tahu siapa orang yang dimaksud.

Kata-kata tersebut begitu menyentuh hati kami (pilihan katanya) sehingga mengingatkan kami ketika masih di bangku kuliah dulu akan istilah flying system. Pernah salah seorang Ibu dosen yang mengajar mata kuliah ternak potong menerangkan bahwa system peternakan kita selama ini masih menganut flying system (mengambang/terbang). Artinya ternak yang kita pelihara belum mempunyai kandang khusus untuk tempat hidupnya baik untuk tempat berproduksi atau tempat reproduksi. Ternak yang dipelihara kebanyakan dikandangkan di bagian belakang rumah, di atap-atap samping rumah bahkan ternak dibiarkan tidur di atas pohon. Untuk ternak besar seperti kambing, sapi, dan kerbau dibiarkan terikat begitu saja di bawah pohon atau ditempatkan di belakang rumah.

Kalau kami bertanya kepada anda di mana tempat ayam kampung bertelur? Apakah ada tempat khusus yang disediakan oleh peternak (petarangan=jawa)? Jawabnya adalah ada peternak yang menyediakan dan ada pula yang membiarkannya mencari tempat bertelur sendiri. Sehingga kadang kita menjumpai ada ayam kampung yang bertelur di atas rumah, ada yang bertelur di bekas tempat sampah, ada yang bertelur di sebelah dapur, atau bertelur di tumpukan tempat penyimpanan pakan untuk sapi atau kambing dan tempat-tempat lainnya.

Kalau kondisinya seperti itu, bagaimana mungkin ternak kita akan menampilkan produksi terbaiknya? Ibarat pepatah “jangan pernah kau tanyakan apa yang telah diberikan bangsa ini kepadamu akan tetapi bertanyalah pada dirimu apa yang telah engkau berikan kepada bangsa ini”? Sama persis masalahnya, janganlah kita selalu menuntut terhadap ternak kita untuk menampilkan produksi terbaiknya sedangkan perlakuan kita terhadap ternak belum maksimal. Oleh karenanya janganlah berharap hasil maksimal jika perlakuan kita belum maksimal. Penuhi kewajiban baru menuntut hak dan jangan pernah di balik.

Ternak yang tidak punya kandang khusus juga akan mengganggu pemandangan. Perumahan yang nampak bersih dan rapi terkotori oleh ulah ayam yang mengais makanan di bak sampah. Jalanan kadang juga terkotori oleh kotoran ternak sapi yang numpang lewat sehabis digembalakan. Bahkan tak jarang pula kecelakaan lalu lintas terjadi akibat lalu-lalalngnya ternak yang berkeliaran di jalan. Kalau sudah begini siapa yang akan di salahkan?

Mengandangkan ternak atau istilah populernya beternak secara intensif memang bukan hal yang gampang. Apalagi tradisi menggembalakan ternak (membiarkan ternak mencari makanan sendiri) sudah merupakan ilmu turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Akan tetapi kalau kita mengetahui dampak positifnya tentu kita akan berlomba-lomba menerapkan system tersebut. Di antara manfaat dari system ini adalah memudahkan manajemen pemeliharaan seperti pemberian pakan, kontrol kesehatan, produksi dan reproduksi, lingkungan akan lebih tertata rapi, dapat diterapkan program recording dan yang lebih penting adalah peternak akan merasa lebih tenang dan nyaman.

Nah sudah saatnya kita mulai merubah paradigma lama kita dari flying system menuju permanent system. Menyediakan kandang untuk ternak kita bukanlah hal yang sia-sia kalau kita mau berpikir rasionalis. Bahkan banyak manfaat yang akan kita peroleh. Memang diperlukan modal untuk hal tersebut tapi bukankah sebanding dengan keuntungan yang akan kita peroleh nantinya. Semoga bermanfaat *(SPt)

Anda dapat mencopy isi artikel ini sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumbernya : www.sentralternak.com

Responses

Pola pandangnya saya suka…tapi butuh waktu panjang untuk membuka paradigma

Trimakasih atas perhatian dan dukungannya.

Leave a response

You must be logged in to post a comment.

Categories