23rd Oct, 2011

Beternak Itik Model Angon, Perlukah?

angon itik, telur itik, beternak itik, rontok buluwww.sentralternak.com, Kalau kita melintas suatu daerah yang terdapat hamparan persawahan dan usai dipanen padinya, biasanya kita melihat tenda-tenda berdiri di tengah sawah. Tenda-tenda tersebut bukanlah tenda milik anak pramuka atau tim SAR, melainkan tenda milik peternak itik yang sedang menggembalakan itiknya di tengah areal pesawahan yang dikenal dengan model angon. Pemeliharaan model angon bisa di bagi menjadi 2 yaitu, model angon musiman yaitu periode angon ditentukan oleh ketersediaan pakan yang ada. Setelah ketersedian pakan di suatu tempat habis maka itik akan dipindahkan ke tempat lain yang ketersediaan pakannya masih melimpah. Siang dan malam itik berada di sekitar kemah yang didirikan oleh peternak.  dan yang ke dua yaitu model angon harian yaitu periode angon pada waktu siang hari saja, sedang di waktu sore itik sudah dikandangkan kembali di rumah peternak.

Beragam alasan yang akan kita peroleh kalau kita bertanya kepada pemiliknya akan manfaat yang diperoleh kalau kita menerapkan model angon. Padahal tidak tanggung-tanggung pengorbanan yang dikeluarkan oleh si empunya itik terutama untuk model angon musiman diantaranya mesti tidur di sawah siang dan malam untuk menjaga itiknya agar tidak bercampur dengan itik peternak lainnya dan agar itiknya tidak dicuri orang lain. Akan tetapi hal itu tidaklah menjadi beban karena memang itu sudah menjadi profesinya. Kalaupun kita berusaha untuk memberi wacana model beternak itik di kandang (intensif) tidak akan banyak memberi arti bagi mereka. Berikut beberapa alasan mengapa orang memelihara itiknya dengan cara di angon :

Alasan pertama yaitu mereka ada yang ingin menghasilkan telur itik alami. Memang benar telur yang dihasilkan dari model angon bisa dikatakan 100% alami (bahasa kerennya organic). Itik tidak tersentuh bahan kimia sedikitpun, baik untuk pakan atau zat aditifnya. Telur yang dihasilkan murni berasal dari bahan pakan yang diperoleh di sekitar persawahan usai panen seperti rontokan padi, katak-katak kecil, cacing, belalang dan lain sebagainya.

Alasan ke dua yaitu kualitas telur yang dihasilkan lebih bagus dari pada hasil pemeliharaan di kandang. Coba anda bandingkan kualitas kuning telur dan bau amisnya antara telur yang dihasilkan dari pemeliharaan model angon dengan telur yang dihasilkan dari pemeliharaan di kandang. Telur itik hasil angon juga aman untuk orang yang mengalami penyakit tertentu seperti penderita alergi dan yang lainnya. Untuk telur tetas juga tak kalah baiknya, karena di alam bebas terutama di rawa-rawa, kubangan air, sungai-sungai kecil merupakan media kawin yang baik bagi itik.

Alasan ke tiga yaitu itik-itik yang ada sedang mengalami masa rontok bulu (tidak berproduksi). Pada saat itik mengalami rontok bulu bisa dibilang produksi telurnya bisa sampai 0%, artinya kalau kita menerapkan model pemeliharaan di kandang, biaya pakan yang dikeluarkan tiap harinya tentu bisa dihitung sedangkan pendapatan saat itu Rp 0,-. Sehingga salah satu cara yang bisa ditempuh agar beban usaha tidak terlalu tinggi adalah itik digembalakan secara angon baik secara musiman atau harian.

Alasan ke empat yaitu biaya pakan tinggi atau harga pakan mengalami kenaikan. Ini adalah alasan dari peternak yang bisa dibilang kurang memperhitungkan manajemen usaha yang diterapkan. Memang, kalau kita beternak itik petelur dengan tingkat produktifitas telur hanya 50-60% per hari maka bisa dibilang usaha yang sedang kita jalankan hanya balik modal saja alias pendapatan hari itu hanya cukup untuk membeli pakan saja akhirnya peternak mencoba model angon. Kalau lah memilih model angon dengan dengan kualitas itik yang sedang bertelur ‘sama’ maka hasilnya tentu tidak jauh berbeda.

Alasan ke  lima yaitu dari segi harga telur, pada umumnya harga telur hasil angon lebih tinggi daripada telur dari itik yang dikandangkan. Meskipun hanya beda Rp 100-200/butir, akan tetapi kalau setiap hari kita bisa panen telur 150 butir tentu bukan selisih yang sedikit. Harga yang lebih tinggi sudah dimaklumi oleh konsumen pasalnya kualitas telur yang lebih bagus. Akan tetapi bagi yang akan memulai cara ini (angon) anda harus memperhitungkan juga waktu yang telah anda luangkan (24 jam di sawah) dengan selisih keuntungan yang akan diperoleh.

Alasan ke enam yaitu karena hoby. Nah yang ini tidak bisa dijadikan ukuran karena hoby setiap orang tentu berbeda-beda. Ada yang melakukannya karena tiap hari bisa ketemu temannya yang seprofesi, atau karena stasus yang punya itik ‘duda’ sehingga tidak ada tanggungan di rumah atau juga ingin ganti suasana baru dengan tidur di sawah dan beragam alasan lainnya.

Setelah anda sedikit punya wacana beternak itik secara angon, maka kesimpulannya ada pada diri kita masing-masing. Mana yang terbaik bagi kita tentu kita sendirilah yang mengetahuinya dan memutuskan hal itu. Semoga bermanfaat* (SPt).

Anda dapat mengcopy isi artikel ini sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumbernya : www.sentralternak.com

Leave a response

You must be logged in to post a comment.

Categories